Sabtu, 04 Februari 2012

ini adalah tugas pendidikan pancasila dimana harus mencari nilai pancasila dalam budaya daerah masing-masing. berikut ini adalah budaya Ogoh-Ogoh yaitu ritual yang di lakukan oleh umat hindu untuk acara nyepi, budaya ini juga di lakukan di daerah lumajang tepatnya senduro.

1. Latar Belakang

Indonesia memiliki beraneka budaya dan kegiatan tradisional di setiap wilayah. Budaya yang ada di Indonesia sangat bervariasi bentuknya, dan hal ini sangat bagus karena menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Setiap wilayah memiliki budayanya sendiri-sendiri, budaya yang ada di wilayah itu mewakili tradisi yang ada di wilayah itu. Namun, budaya dan tradisi itu tidak lepas dari unsur Pancasila. Hal ini karena Indonesia sebagai negara yang mempunyai ideologi pancasila yang melekat sehingga membuat pengaruh pada budaya-budaya yang berkembang di Indonesia.
Ideologi pancasila itu yang membuat budaya di Indonesia semakin menjiwai dalam hati masyarakat Indonesia karena budaya atau kegiatan itu sesuai dengan ideologi yang masyarakat Indonesia anut. Dan hal ini akan semakin menguatkan nilai dari budaya itu.
Untuk itu, maka penulis sebagai seorang yang berada di wilayah Lumajang, akan memaparkan budaya atau kegiatan tradisional yang ada di wilayah penulis. Budaya yang diambil yaitu Ogoh-ogoh yang merupakan budaya khas daerah senduro, lumajang yang mempunyai pura terbesar yang digunakan oleh umat hindu untuk beribadah. Kegiatan Ogoh-Ogoh ini merupaka salah satu ritual untuk menyambut nyepi, hari raya untuk umat hindu.
Budaya atau kegiatan khas ini akan di kaji menurut ideologi pancasila. Nilai-nilai pancasila apa saja yang terkadnung dalam kegiatan khas kabupaten Lumajang khususnya Kecamatan Senduro ini.

2. Pembahasan

Menyambut acara hari raya nyepi, umat Hindu di kawasan Senduro Lumajang mempersiapkan berbagai acara ritual untuk merayakan hari penting di agamanya. Salah satu yang mencolok dilakukan adalah ritual membakar iblis yang dirupakan dengan pembuatan ogoh-ogoh.
Ogoh yang berbentuk raksasa dengan muka seram itu adalah sebuah karya untuk menggambarkan kebaradaan iblis yang selalu berupaya menyesatkan manusia. Karenanya, dalam ritual nanti ogoh-ogoh raksasa itu akan dibakar sebagai perlambang perlawanan manusia agar tidak terperdaya oleh tipu daya.
Ritual Ogoh-ogoh dilaksanakan menjelan perayaan nyepi. Nantinya, ogoh-ogoh sebagai perlambangan kejahatan dan keangkara murkaan alias Raksasa diarak keliling kampung dan dibawa ke Sungai Ireng-Ireng untuk dibakar, sebagai bentuk penghapusan iblis atau setan didunia yang menganggu manusia.
Arak-arakan ogoh-ogoh ini merupakan rangkaian prosesi Tawur Agung menyambut Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu, dimana pihak Pura Mandara Giri Semeru Agung di Kecamatan Senduro dalam setiap tahunnya akan menyajikan yang lebih meriah, hal ini terbukti untuk peserta ogoh-ogoh selalu bertambah.
Prosesi dimulai dari Pura Mandara Giri Semeru Agung, yang diikuti ratusan warga umat Hindu, baik anak-anak hingga orang dewasa dengan mengenakan pakaian khas mereka. Para laki-laki mengenakan ikat kepala putih dan sarung putih atau kotak-kotak hitam putih yang dipasang melilit di pinggang mereka, sedangkan yang wanita memakai kebaya dan kain jarik warna-warni serta bunga ditelinga, semuanya seperti suasana di Bali. Berbagai kegiatan dilakukan umat Hindu di Pura Mandara Giri Semeru Agung, sebelum melakukan ritual puncak Tawur Agung atau pembakaran ogoh-ogoh, yaitu melakukan persembahan sesaji dan melakukan sembahyang di pura.
Begitu selesai arak-arakan Ogoh-ogon ini, Umat Hindu langsung pulang kerumah masing-masing untuk ritual nyepi atau tapa brata. Dalam ritual ini, umat Hindu menghentikan semua aktivitas dunia atau nyepi. Acara nyepi atau tapa brata ini dilakukan Umat Hindu mulai pukul 00.00 hingga pukul 05.00. Namun juga ada sebagian umat Hindu yang melakukan ritual nyepi ini selama 24 jam.
Ritual ogoh-ogoh sangat menyita perhatian warga, bahkan masyarakat diluar Senduro juga ikut menyaksikan acara ini, sekedar ingin tahu tentang ritual umat Hindu tersebut yang sudah menjadi ciri khas itu.

3. Analisis

Nilai Pancasila yang dapat diambil dari kegiatan tradisinoal ini adalah :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Tradisi Ogoh-ogoh ini sangat mencerminkan sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, hal ini karena ritual ogoh-ogoh ini merupakan ritual keagamaan, khususnya agama hindu. Dalam ritual ini sangat jelas terlihatnya kepercayaan kepada Tuhan. Dan hal ini merupakan implementasi dari sila pertama dari pancasila.
Kegiatan ini juga merupakan salah satu dari rangkaian keagamaan agama hindu yaitu nyepi. Dengan ini ogoh-ogoh yang merupakan kegiatan khas yang dilakukan di wilayah pure senduro sudah mengandung nilai pancasila khususnya sila pertama.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
Sila kedua dari pancasila ini juga dikandung dalam acara khas Lumajang ini, dimana dengan adanya acara Ogoh-ogoh ini, diharapkan manusia dapat mengusir “setan” dalam hatinya dan menjadi manusia yang adil dan beradab. Acara ini juga merupakan serangkaian acara penyucian diri bagi umat agama Hindu, sehingga dengan adanya acara Ogoh-Ogoh ini, umat hindu berharap agar kembali suci. Dalam acara ini juga, uamta hindu diminta untuk menjadi manusia yang peduli dengan sesame, tidak memandang derajat atau kedudukan dan yang paling penting adalah menjadi manusia yang beradap dan berguna bagi bangsa Indonesia.
Untuk itu acara ini mengandung unsur dari sila ke-dua pancasila karena aspek pada sila ke-dua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradap diterapkan dalam acara ini, hal ini juga menegaskan bahwa maksud dari kegiatan tradisonal ini merupakan maksud yang baik dan mulia untuk manusia khususnya warga Indonesia.

3. Persatuan Indonesia
Kegiatan ini sudah mengandung nilai dari sila ketiga yaitu persatuan Indonesia. Hal ini terlihat dari sikap kegotong-royongan masyarakat dalam menyiapakn acara ini. selain itu, masyarakat di luar daerah yang memiliki suku, agama atau budaya yang berbeda juga ikut menyaksikan dan menghormati kegiatan ini. hal ini merupakan implikasi dari sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia. Diman setiap warga Indonesia bersatu demi kejayaan bangsa Indonesia, tanpa mempedulikan, suku, agama, ras, budaya yang berbeda.
Acara ogoh-ogoh ini sangat baik, dimana selain untuk menumbuhkan rasa persatuan bagi warga Indonesia, juga untuk membuat warga Indonesia mengenal budaya Indonesia lebih dekat. Dengan begitu akan muncul rasa untuk mencintai budaya Indonesia sehingga akan semakin menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat persatuan Indonesia.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Kegiatan Ogoh-Ogoh ini juga dilakukan setelah melalui hasil rapat dari para panitia yang tentunya membutuhkan koordinasi dan musyawarah. Untuk mendapatkan hasil yang baik yaitu acar yang lancar, dibutuhkan koordinasi yang baik dan hal ini juga membutuhkan sikap kepemimpinan yang baik untuk mengatur jalannya acara menuju kesempurnaan.
Demi berlangsungnya kegiata yang lancar dan baik, maka dibutuhkan sebuah kerjasama antar warga masyarakat ataupun panitia. Dalam sebuah kerjasama itu dibutuhkan musyawarah-musyawarah yang baik untuk mencapai sebuah mufakat demi suksesnya acara.
Dalam acara ini juga dibutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai jiwa pemimpin yang baik sekaligus yang bijaksana agar acara ini dapat berjalan dengan lancar. Dalam hal ini implementasi pancasila sila ke-empat sangat terlihat.
Untuk itu maka acara Ogoh-Ogoh ini juga mengaplikasikan sila ke-empat dari pancasila yaitu “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.


5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Keadilan sosial dari acara ini adalah tidak adanya perbedaan derajat bagi yang mengikuti kegiatan ini. semua orang merupakan sama, tidak ada perbedaan yang membuat masyarakat merasa terkucil dalam acara ini.
Kegiatan ini juga dapat dikatakan implementasi dari sila ke-lima pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dimana tidak ada perbedaan-perbedaan yang membuat perpecahan, serta mendapatkan keadilan untuk setiap warganya.
Dalam acara ini, sikap saling menghargaia sangat dijunjung, diman meskipun ada warga yang bukan beragama hindu tetapi ingin ikut berpartisipasi, maka diperbolehkan. Aspek ini juga sdudah menerapkan implementasi sila ke-lima.
Untuk itu maka acara ini merupaka bentuk dari aplikasi sila ke-lima yang menunjukkan sebuah keadilan sosial bagi semua orang yang ada.

-lumajang-
04.02.2012-

Hoshiora . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates